| Sejumlah gedung di Tanah Air idap sindrom bangunan sakit |
|
Oleh Yusuf Waluyo Jati
Published On: 24 February 2011
Praktisi Epidemik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Faisal Yatim mengatakan sejumlah gedung di enam kota besar diduga mengidap sindrom bangunan sakit (SBS/sick building syndrom) yakni Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Surabaya dan Makassar.
Menurut dia, gedung-gedung di enam kota itu sebagian besar mengabaikan konsep bangunan hijau yang mengedepankan perbaikan ventilasi udara dan cahaya di dalam ruangan. Sindrom bangunan sakit tersebut memiliki ciri-ciri banyak polusi karena tak mengandung udara segar. Kondisi tersebut salah satunya dapat disebabkan adanya pemasangan AC (pengkondisi udara) sentral dan tempat-tempat air. Dia menilai pipa-pipa AC sentral pada menara pendingin dan tempat-tempat air di hotel-hotel dan rumah spa sering menimbulkan korosi dan munculnya tumbuhan pengganggu. Selain itu, polusi udara dari luar yang masuk dari AC sentral memicu perkembangbiakan bakteri legionella yang menyebabkan para penghuninya terkena penyakit demam, iritasi, sesak nafas, lemas dan gangguan pencernaan. "Penelitian ini kami lakukan pada 2007. Kalau 20%-50% penghuni gedung sudah mengalami gejala seperti itu, mereka terindikasi kuat terkena penyakit legionellesis yang berasal dari sindrom bangunan sakit. Ini sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kematian," katanya hari ini. Yanuaryani menjelaskan untuk menghindari hal tersebut, bangunan baru di kota-kota besar harus mereformulasi ulang terkait dengan salah satu konsep bangunan hijau terutama IHC (indoor health and cover). Gedung-gedung dinilai telah menerapkan IHC jika telah menerapkan kampanye antirokok, adanya outdoor AC, terdapat pendeteksi CO2, bebas polutan kimia, adanya tanaman hidup, serta tersedia alat pendeteksi polutan berbahaya. Namun, Ignesjz melanjutkan, GBCI saat ini masih kesulitan mengumpulkan data seluruh gedung yang berkaitan dengan penggunaan energi, sistem sanitasi dan tingkat polusi. "Dengan rating yang kami susun, pengelola gedung diharapkan bisa bekerja sama memberikan data agar informasi yang kami terima bisa jelas," katanya. (gak) Sumber : http://www.bisnis.com |

