Defisit Air di Depan Mata, Apa Upaya Kita?

Rabu, 21 Juli 2010, bertempat di Hotel Borobudur, Konsil Bangunan Hijau Indonesia turut diundang dalam seminar tentang “Defisit Air di Depan Mata, Apa Upaya Kita?” yang diadakan oleh harian umum Sinar Harapan bekerjasama dengan Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia dan Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia.

 

Seminar yang turut dihadiri oleh Menteri Perkerjaan Umum Republik Indonesia, Bapak Ir. Djoko Kirmanto, diadakan untuk menjawab tantangan yang dihadapi untuk mengejar Millenium Development Goals (MDG’s), guna memangkas jumlah masyarakat yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih dengan menerapkan manajemen pengolahan air yang baik. Perbincangan seputar sumber air bersih di Indonesia ternyata belum dapat se-popular masalah ketersedian infrastruktur lainnya seperti pembangunan jalan tol yang semakin marak yang sepertinya yang tidak pernah akan selesai, padahal ancaman akan ketersedian air bersih tersebut sudah ada di depan mata. Kedua hal tersebut bermuara pada penyebab yang sama yaitu meningkatnya jumlah penduduk yang tidak terkendali dan perubahan faktor iklim akibat degradasi lingkungan.

 

 

Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana – BPPT memprediksi bahwa cadangan air bersih untuk kehidupan di segala sektor perkotaan di Indonesia hanya cukup sampai tahun 2020. Hal tersebut dipertegas oleh data dari neraca air pada tahun 2003, total kebutuhan air di pulau Jawa dan Bali yang mempunyai penduduk terpadat, yakni 83.4 miliar meter kubik pada musim kemarau, hanya dapat dipenuhi sekitar 25,3 miliar meter kubik atau 66%, defisit ini akan diperkirakan terus meningkat drastis pada 2030 ketika jumlah penduduk dan aktivitas perekonomian semakin parah.  Sedangkan potensi sumber daya air di Indonesia diperkirakan sebesar 15.000 meter kubik perkapita pertahun, jauh lebih tinggi daripada potensi rata-rata pasokan dunia yang hanya 8000 meter kubik pertahun. Irreversible deforestation, rapid population growth, environmental degradation resulted in the deterioration of many water resources on many island in Indonesia will continue to adversely affect water resources. So, still waiting to act?


Sumber : studi literatur dari berbagai mehttp://gbcindonesia.org/administrator/index.php?option=com_content§ionid=-1&task=edit&cid[]=104#dia cetak